Selasa, 28 Oktober 2014

Persepsi Jilbab

banyaknya orang yang menurut gw kurang tepat mentafsirkan pemakaian jilbab kadang membuat kuping ini panas. bukannya gw sok alim tapi memang beberapa waktu belakangan gw mulai mencoba mendalami ilmu agama yang gw rasa sangat amat dangkal. gw cuman berpikiran, "yaelah sob, hidup itu cuman sebentar. lo hidup paling berapa lama si? 60 tahun? 70 tahun? trus abis itu mati. apa yang lo bawa pas lo mati nanti klo masih gini-gini aja".

banyak hal (menurut gw) yang baru gw pelajarin, dan gw baru sadar kalo Islam itu agam yang ddaalleemmm banged, maknanya luuaasss banged, semua hal diatur sama Islam. hal yang wajar karena Islam adalah agama yang paling sempurna dan agam yang paling benar. gw baru tau kalo Islam itu ada sistem politiknya, sistem ekonominya, sistem pemerintahannya, bahkan mau masuk kamar mandi aja Islam ada aturannya, Subhanallah. gw yakin gak ada manusia selain Allah yang bisa bikin sistem dan aturan sekomplit itu.

kembali lagi ke masalah jilbab, mungkin kita semua pernah denger bahkan sering denger pernyataan atau istilah "mau ngapain berjilbab klo hatinya gak bersih" "orang berjilbab aja pada korupsi" ÿang penting jilbab dulu hatinya baru palanya". yaaa, masih banyak orang berfikiran kayak gitu, bahkan gw sendiri dulu berfikiran seperti itu. wajar aja karena informasi tentang jilbab secara kafah gak pernah sampe ke akal dan hati kita. tapi ya kalo nungguin tuh informasi dateng sendiri ya gak bakal dateng-dateng, karena hidayah itu proses aktif. hidayah akan datang kepada orang-orang yang memang benar-benar pengen hidayah itu datang.

jilbab itu wajib. (hah? wajib gimana?

Al Ahzab ayat 59
Hai Nabi, katakanlah kepada istri istrimu, anak anak perempuanmu, dan istri istri orang mukmin (wanita dengan agama Islam), "hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu, dan Allah adalah maha pengampun lagi maha penyayang".

An Nur ayat 31
katakanlah kepada wanita yang beriman: "hendaklah mereka menahan pandangannya, kemaluannya, dan janganlah mereka menampakan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-lelaki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung".

jadi kalo ada pernyataan atau istilah basi seperti di atas, jadi gak ada hubungannya sama hukum jilbab. wong jilbab hukumnya wajib kok untuk wanita muslim. jadi selama lo perempuan, dan beragama Islam, WAJIB HUKUMNYA untuk memakai jilbab. terlepas kamu orang baik atau tidak, itu beda lagi urusannya. memakai jilba itu hanyalah sebagian kecil dari proses pembelajaran, bukan hasil akhir takwamu!!. karena takwamu hanya Allah yang tau.

yang parah lagi, banyak orang bilang "tapi ada kok ulama yang bilang kalo jilbab gak wajib, yang penting hatinya".
ulama yang mana?????
Islam itu ada di seluruh dunia. ulama pun ada di seluruh dunia. belajar lah...! jangan cuman denger sama satu ulama aja dan disatu negara aja. ada teknologi yang namanya internet. mau belajar dari ulama di seluruh dunia gak harus dateng langsung ke negara-negara lain, gak harus mahal-mahal beli tiket pesawat. kalo memang bener-benr mau belajar, in shaa Allah pasti ketemu jawabannya. pertanyaannya sekarang, apa kita bener-bener mau belajar? ingat, hidayah itu proses aktif. hidayah akan datang kepada orang-orang yang memang benar-benar pengen hidayah itu datang.

Yuk ngaji, dan mengkaji!!!

Senin, 20 Oktober 2014

Selamat Jokowi

drama pemilihan presiden 2014 berkahir dengan dilantiknya jokowi-jk sebagai presiden dan wapres RI periode 2014-2019. dengan segala kontroversi, penilaian, dan prediksi gw tentang jokowi, mau gak mau dan suka gak suka gw harus mengucapkan selamat. tugas berat menanti anda di depan. ekspektasi masyarakat dan media yang begitu besar karena mampu meberi harapan dan perubahan baru terhadap negeri tentu sangat diharapkan. walaupun perubahan seperti apa yang rakyat harapkan gw masih belom paham.



10 tahun SBY berkuasa dan dengan segudang prestasi yang telah dibuat tentu membuat tekanan yang lebih besar lagi kepada jokowi. tentu rakyat akan dengan mudah membandingkan jokowi dengan SBY krn 2 periode SBY memimpin tentu sangat lekat di hati rakyat.
bukan cuman itu, yang lebih parah adalah banyaknya "warisan" (Century, 2000 trilyun hutang Negara, dll) yang ditinggalkan tentu menambah banyak program kerja yang harus dilakukan selain janji-janji kampanye yang anda jual kepda rakyat.



besarnya ekspektasi rakyat dan pemberitaan media tentu menambah tekanan lagi, harapan begitu tinggi menjulang. jokowi dianggap sebagai sosok yang dapat membawa perubahan yang entah sampai kapan bangsa ini harus selalu berubah.
bayangkan, baru dilantik saja rakyat sudah menggelar pesta dan mengelu2kan seakan dia sudah melakukan dan berjasa besar untuk negara, ya kemenangan jokowi adalah kemenangan demokrasi, kemenangan rakyat katanya.

 

siapapun presidennya, rakyat harus tetap menjadi oposisi untuk memberikan fungsi kontrol kepada eksekutif karena demokrasi yang sesungguhnya adalah dimana rakyat memegang kendali penuh dan pemerintah adalah sekelompok orang yang bekerja untuk rakyat. apapun kubu kalian skrng saatnya kita harus mendukung pemimpin yang ada agar mereka dapat bekerja dengan nyaman untuk kepentingan kita.
 

semoga prediksi gw tentang dia salah semua

-Muhamad Aditya Iranda

Minggu, 19 Oktober 2014

Demokrasi dari sudut pandang rakyat jelata



Apakah kita harus menaruh kepercayaan penuh kepada mereka?
ya, itulah yang kemarin sempat ramai diperbincangkan mengenai undang-undang apakah kepala daerah harus dipilih melalui DPRD atau pemilihan langsung.

Tunggu dulu..

bagaimana mereka bisa ada disana? kenapa mereka bisa terpilih? siapa yang memilih mereka?
yaa.. pemilihan langsung!!! mereka kita yang pilih dengan cara yang demokratis.

kenapa kita memilih mereka? kenapa mereka yang kita pilih? kenapa partai mereka yang kita pilih? kenapa orang-orang seperti ini diperbolehkan untuk mencalonkan diri? kenapa orang-orang seperti ini diperbolehkan masuk partai politik? bagaimana cara partai menaruh nama mereka dalam urutan nomor nama-nama dalam pemilihan?

baiklah anggap kasus ini tidak pernah ada.
kita tetap bisa memilih pemimpin daerah kita secara langsung, dari partai politik yang sama seperti mereka?
bagaimana cara partai membina kader? sedangkan orang-orang seperti mereka boleh berebut kursi untuk mewakili kita? bukannya mereka dan para calon kepala daerah terpilih nanti sama-sama orang dari partai politik yang sama?

oke, ada calon independent yang bukan orang partai katanya. tapi kenapa mereka tidak pernah menang? ya, karena rakyat (kita) tidak pernah memilih mereka. bukannya pemenang dalam sistem demokrasi ditentukan oleh suara terbanyak?
anggap si independent yang menang, lalu bagaimana si independent dapat mengalahkan orang-orang seperti ini di pemerintahan nanti? bukannya si independent akan dikontrol dan diatur mereka? bukannya setiap kebijakan si independent harus melalui persetujuan mereka? bukannya mereka yang nanti akan membuat aturan dan undang-undang yang harus diikuti dan dipatuhi oleh si independent yang nantinya kalau tidak diikuti akan melanggar aturan konstitusi katanya?

ya, itulah demokrasi!!!

maafkan saya kawan atas banyaknya pertanyaan yang ada di benak dan pikiran ini. banyaknya hal yang saya tidak mengerti tentu menggambarkan betapa bodoh dan kurangnya pengetahuan dalam diri ini.
mungkin kalian akan mentertawakan dan menganggap remeh. ini hanyalah curhatan rakyat jelata Indonesia yang bnayak  orang bilang, mayoritas masih cukup bodoh menerima konsep demokrasi sesungguhnya sesuai keinginan kalian.

ya itulah demokrasi.

-Muhamad Aditya Iranda