Selasa, 25 November 2014

Lagi lagi Janji Palsu?

Nampaknya pohon beringin yang dulu berdiri sangat kuat dan kokoh itu kini mulai bergoyang dan terancam rubuh akibat kerasnya gelombang dari tujuh arah mata angin dengan tujuan yang berbeda. Si lambang ka'bah yang tak lagi ramah karena nampaknya sang umat kini memiliki dua kiblat yang berlainan arah.
Si banteng yang mulai cengeng dan tidak lagi garang seperti dahulu karena kini dia sudah mendapatkan apa yang dia idam-idam kan sedari dulu, ya si banteng kini berada di dalam kandang yang sangat nyaman dengan penuh makanan yang cukup untuk hidup setidaknya dalam lima tahun kedepan.
Lalu bagaimana dengan lain?
si burung garuda?
persatuan artis nasional?
panas adem?
persatuan yang katanya untuk kebangkita bangsa?
apa kata rakyat tentang hati nuraninya?
bagaimana dengan keadilan demi sejahtera?

Nampaknya peta perpolitikan kita sudah sampai titik nadir, masyarakat semakin rancu, bingung, tidak tahu lagi harus berpegang kepada siapa. setelah bulan-bulan lalu kita dimanjakan dengan janji yang sedikit memunculkan cahaya pengharapan, namum apa yang terjadi? nampaknya cahaya itu semakin meredup, menjauh, dan nampaknya cahaya itu perlahan menghilang. Apakah kita lagi lagi terkena janji palsu?

kekisruhan dia anggota dewan yang katanya terhormat itu, tak kunjung selesai. kebijakan si manusia yang kita bayar untuk mengurusi kita pun semakin hari, semakin kontroversial. seharusnya si eksekutor itu mengeluarkan kebijakan yang sekiranya mempersatukan tapi malah membuat kebijakan yang nampaknya hanya dapat dimengerti oleh pengikutnya.

Apakah ini awal hancurnya demokrasi di tanah air?
memang harus ada titik chaos dalam sebuah zaman untuk bisa menjadi lebih baik.
seperti kita hendak membangun ulang sebuah bangunan yang sudah lama. kita harus menghancurkan dulu bangunan lama tersebut hingga rata dengan tanah, baru kita bisa membangun banguna baru tersebut di atasnya, dengan bangunan yang lebih bagus tentunya. mungkin seperti itu gambaran bangsa ini sekarang.

semoga saja yang terbaik

Muhamad Aditya Iranda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar